Medan, 31 Oktober 2025 – Adelia Jasmine Efendi, mahasiswa D4 Akuntansi Sektor Publik mengikuti Kompetisi Esai Nasional bertema “AI: Mendorong Kemajuan Peradaban atau Menjadi Penghambat?” oleh Pemuda Internasional. Melalui karyanya yang membahas MindGuard, Adel berhasil menghadirkan gagasan inovatif tentang sistem pengawasan penggunaan AI untuk menjaga proses berpikir kritis para pengguna AI.

Ketertarikannya bermula dari sosial media. Rasa penasaran membawanya mencari info lebih lanjut hingga ia menemukan salah satu konten kreator yang membagikan informasi mengenai esai. Meski sempat pesimis karena belum pernah sama sekali menulis esai, apalagi untuk sebuah kompetisi nasional, Adel tetap memberanikan diri untuk mencoba. Keberanian itu tidak muncul sendirian, tetapi juga diiringi dengan niat dan tekad darinya.

Menurut Adel, tema yang diusung oleh Pemuda Internasional sangat relevan dengan kehidupannya sebagai mahasiswa yang juga pengguna aktif teknologi AI. Perjalanan selama tiga minggu untuk merancang konsep dan melakukan riset membuka kesadarannya mengenai dampak positif dan negatif penggunaan AI di dunia pendidikan.

Ide MindGuard ini lahir dari pengalaman pribadi sekaligus pengamatannya terhadap tren ketergantungan AI di kalangan pelajar. “Kadang, dengan AI kita lebih memilih untuk menyalin daripada menelaah ulang. Bahkan dalam beberapa kasus, pengguna AI tidak tahu benar apa yang disalin. Dan berdasarkan jurnal-jurnal yang saya baca, kelemahan ini banyak dialami oleh pelajar kita,” ungkap Adel.

MinGuard dirancang sebagai sistem pemantauan digital berbasis web dan cloud yang mengawasi aktivitas penggunaan AI secara real-time. Sistem ini mencatat intensitas penggunaan, jenis pertanyaan, hingga durasi akses. Data tersebut dianalisis untuk melihat tanda-tanda ketergantungan, penyalahgunaan, atau penurunan kemampuan berpikir kritis. Sistem ini bahkan memberikan rekomendasi pembelajaran yang dipersonalisasi.

“MindGuard itu mengumpulkan data → memonitor → menganalisis → memberi peringatan → menyajikan laporan, lalu pengguna AI bisa mengambil tindakan,” jelas Adel. Sistem ini tidak terlalu rumit, namun memiliki nilai akademik, sosial, dan teknologi yang sangat relevan. Sebagai generasi digital, Adel ingin mengajak para mahasiswa untuk menggunakan AI secara sehat dan bertanggung jawab. “Saya ingin mengajak teman-teman memanfaatkan AI sebagai jembatan menuju kreativitas yang lebih luas. AI itu alat, bukan pengganti cara kita berpikir. Kita yang menentukan apakah AI jadi batu loncatan atau sandungan.”

Kemenangan ini membawa kebanggaan tersendiri bagi Adel. Bukan sekadar karena gelar juara, tetapi karena keberaniannya untuk memulai. “Perasaan terkuat adalah kebanggaan pada diri sendiri. Bukan hanya karena saya menang, tetapi karena saya berani mencoba sesuatu yang jelas-jelas baru bagi saya. Sekarang saya bahkan lebih bersemangat untuk ikut serta dalam kompetisi lain.”

Melalui kompetisi ini, pandangan Adel terhadap dunia pendidikan semakin terbuka. AI membuka peluang belajar, tapi juga bisa membuat kita kehilangan esensi dari proses belajar. Banyak yang bergantung pada jawaban instan. Namun, belajar itu proses, bukan hasil instan. Ia berharap mahasiswa menjadi generasi yang melek teknologi, tahu kapan memanfaatkan AI dan kapan harus berpikir sendiri. Untuk pendidik dan sivitas akademik, Adel berharap akan ada lebih banyak ruang diskusi dan kebijakan yang mengarahkan penggunaan AI secara etis dan terarah.

Prestasi Adel menjadi bukti bahwa mahasiswa vokasi tidak hanya unggul dalam praktik, tetapi juga mampu berinovasi dan mengidentifikasi masalah pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa inovasi dapat lahir dari keberanian untuk mencoba, kepekaan terhadap masalah nyata, dan kemauan untuk terus belajar. MindGuard hadir sebagai gagasan segar yang menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat menjadi bagian dari solusi di era digital.