home icon
search icon
menu icon

> Berita > Patrick Bersiap Hadapi Seleksi Nasional Pilmapres Usai Wakili USU di Tingkat Wilayah

Patrick Bersiap Hadapi Seleksi Nasional Pilmapres Usai Wakili USU di Tingkat Wilayah

Dipublikasi Pada

30 April 2026

Dipublikasi Oleh

Nurul Juliani, S.Si

Patrick Bersiap Hadapi Seleksi Nasional Pilmapres Usai Wakili USU di Tingkat Wilayah
Thumbnail Patrick Bersiap Hadapi Seleksi Nasional Pilmapres Usai Wakili USU di Tingkat Wilayah
Perjalanan Patrick Nicxon Hutabarat di Pilmapres tingkat wilayah menjadi pengalaman berharga yang membentuk rasa percaya diri dan semangat bertumbuh sebelum melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.

Medan, 30 April 2026 — Perjalanan Patrick Nicxon Hutabarat, mahasiswa Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara, dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) terus menghadirkan pengalaman berharga dan penuh pembelajaran. Setelah terpilih sebagai delegasi diploma Universitas Sumatera Utara, Patrick mengikuti seleksi Pilmapres tingkat wilayah yang berlangsung selama tiga hari di Universitas Prima Indonesia.

 

Pada tahap wilayah, Patrick membawa inovasi yang sama seperti pada seleksi sebelumnya. Namun, fokus persiapannya kali ini lebih diarahkan pada peningkatan kualitas presentasi, mulai dari artikulasi, intonasi, hingga cara menyampaikan gagasan agar lebih mudah dipahami oleh dewan juri.

 

Dalam proses persiapan tersebut, Patrick mendapatkan kesempatan berharga untuk dibimbing langsung oleh sejumlah dosen terbaik Universitas Sumatera Utara, yaitu Prof. drg. Sondang Pintauli, Dr. Lukman Adlin Harahap, dan Fuzy Yustika Manik. Mereka memberikan pendampingan mulai dari penyempurnaan gagasan inovasi, penguatan teknik presentasi, latihan menjawab pertanyaan, hingga evaluasi desain poster yang digunakan selama kompetisi.

 

“Rasanya sangat hangat dan menjadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanan Pilmapres ini. Jujur, momen tersebut bahkan terasa lebih membahagiakan daripada saat meraih juara,” ungkap Patrick.

 

Menurutnya, para dosen membimbing dengan cara yang profesional namun tetap santai sehingga membuat proses belajar terasa nyaman dan tidak menegangkan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan yang paling berharga selama mengikuti Pilmapres.

 

Melalui proses mentoring tersebut, Patrick belajar bahwa kompetisi bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang kemauan untuk terus berkembang dan menerima masukan. Ia juga memahami pentingnya menyampaikan ide secara sederhana, jelas, dan mudah dipahami.

 

“Masukan yang paling membekas bagi saya adalah untuk tetap menjadi diri sendiri dan tidak terlalu overthinking. Mereka mengingatkan bahwa rasa percaya diri jauh lebih penting daripada mencoba menjadi orang lain saat tampil di depan juri,” tambahnya.

 

Pengalaman bersama para guru besar tersebut juga mengubah cara pandang Patrick terhadap dunia akademik dan kompetisi. Ia mengaku semakin kagum terhadap peran akademisi yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga mampu membimbing dan memberikan dampak positif bagi mahasiswa.

 

Seleksi tingkat wilayah sendiri berlangsung selama tiga hari dengan tahapan yang berbeda setiap harinya. Pada hari pertama, Patrick mengikuti sesi wawancara capaian unggulan. Hari kedua dilanjutkan dengan presentasi produk inovasi dan sesi tanya jawab bersama dewan juri. Sementara pada hari terakhir, peserta mengikuti presentasi bahasa Inggris dengan topik “The 1% Battery Paradox: Why Cognitive Readiness is the True Foundation of Quality Education.”

 

Patrick mengaku sempat merasa gugup, terutama saat presentasi produk inovasi karena ada beberapa bagian materi yang sempat terlupa. Namun, ia berusaha tetap tenang sehingga seluruh tahapan dapat diselesaikan dengan baik.

Selain menghadapi tantangan kompetisi, Patrick juga mendapatkan pengalaman baru dengan bertemu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta saling bertukar cerita, pengalaman, hingga budaya kampus masing-masing.

 

“Walaupun hanya bersama selama tiga hari, rasa kekeluargaan yang terjalin terasa sangat erat seperti saudara sendiri,” ujarnya.

Perjalanan Pilmapres ini juga perlahan mengubah rasa percaya diri Patrick. Jika sebelumnya ia selalu merasa peserta lain lebih hebat dan menjalani kompetisi dengan mindset nothing to lose, kini ia mulai menyadari bahwa dirinya juga memiliki kemampuan dan potensi yang layak untuk diperjuangkan.

 

“Saya belajar bahwa rasa takut dan ragu akan selalu ada, tetapi hal tersebut tidak boleh menghentikan langkah kita untuk mencoba dan berkembang,” katanya.

 

Di akhir wawancara, Patrick turut memberikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba berbagai kesempatan yang ada.

 

“Jangan terlalu overthinking dan jangan takut mencoba. Kita tidak pernah tahu sejauh mana kemampuan diri kita sebelum benar-benar mencoba. Tidak apa-apa gagal, karena kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju versi terbaik diri kita,” tutupnya.

Perjalanan Patrick dalam ajang Pilmapres menjadi bukti bahwa kompetisi bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga tentang proses bertumbuh, keberanian keluar dari zona nyaman, serta kesempatan untuk terus belajar dan berkembang. Pada tahap seleksi wilayah, Patrick berhasil meraih Harapan I dan melanjutkan perjuangannya ke babak nasional. Pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa vokasi mampu bersaing, beradaptasi, dan membawa dampak positif melalui semangat belajar yang konsisten.

 

Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik turut memberikan apresiasi dan dukungan penuh atas perjalanan Patrick dalam ajang Pilmapres. Melalui pengalaman dan proses yang telah dilalui, program studi berharap Patrick dapat terus menjaga fokus, meningkatkan rasa percaya diri, dan memberikan performa terbaik pada tahap seleksi nasional selanjutnya. Semangat dan perjuangan Patrick juga diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkembang dan berani melangkah meraih prestasi.

Berita