Medan, 11 September 2026 — Tim dosen Program Studi D3 Metrologi dan Instrumentasi, Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU), berhasil merampungkan penelitian dan pengembangan prototipe Helm TOBA: Technology Onboard for Bike Automation, sebuah helm pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk menekan risiko kejahatan begal terhadap pengendara sepeda motor. Penelitian ini dipimpin oleh Dona Tiara Lubis, S.T., M.T. selaku ketua peneliti, bersama tiga anggota tim yaitu Junedi Ginting, S.Si., M.Si., Lukman Hakim, S.Si., M.Si., dan Syukratun Nufus, S.Si., M.Sc., di bawah skema Penelitian Dosen Muda/Pemula (Penelitian Perintis) Talenta USU tahun anggaran 2025.

Riset ini bermula dari keprihatinan tim terhadap tingginya angka kejahatan begal di Kota Medan: kasus pencurian sepeda motor tercatat 184 insiden pada 2021, naik menjadi 209 kasus pada 2022, dan melonjak menjadi 399 laporan kasus begal hingga pertengahan 2023 — namun hanya sebagian kecil yang berhasil diungkap aparat. Sistem keamanan kendaraan yang beredar di pasaran umumnya hanya mengandalkan satu perangkat di dalam motor, sehingga kurang responsif ketika pengendara dipaksa turun atau terpisah dari kendaraannya saat aksi begal berlangsung. Dari persoalan itulah gagasan Helm TOBA lahir: menghadirkan sistem keamanan yang "bergerak" bersama pengendara, bukan hanya menempel pada kendaraan.

Secara teknis, Helm TOBA bekerja melalui dua modul mikrokontroler ESP32 yang saling terhubung secara nirkabel melalui Wi-Fi/Bluetooth — satu dipasang di dalam helm, satu lagi pada kendaraan. Modul pada motor dilengkapi dengan modul GPS NEO-6M untuk pelacakan lokasi real-time, relay ganda untuk mengontrol aliran listrik ke mesin dan klakson, serta PCB kustom agar perangkat lebih ringkas. Selama helm berada dalam jangkauan sinyal motor, mesin menyala normal. Namun begitu, jarak antara helm dan motor melampaui radius aman ±2 meter — misalnya saat pengendara dipaksa turun oleh pelaku kejahatan — sistem otomatis memutus aliran listrik ke mesin sekaligus membunyikan alarm, sementara koordinat lokasi kendaraan dikirim dan dapat dipantau secara real-time melalui aplikasi Blynk.

Prototipe yang telah dirakit diuji pada lima jenis lingkungan di Kota Medan — lapangan terbuka, permukiman, kawasan urban, jalan padat, dan jalan lengang. Hasilnya, sistem terbukti konsisten menjaga koneksi hingga jarak 2 meter antara helm dan kendaraan, dengan waktu respons pemutusan mesin 20–63 detik tergantung pada interferensi lingkungan. Modul GPS juga terbukti mampu melacak posisi kendaraan secara akurat, meski waktu penguncian sinyal satelit bervariasi antara 180–900 detik tergantung pada kepadatan bangunan. Dari sisi daya tahan, modul helm mampu beroperasi hingga sekitar 27 jam menggunakan baterai Li-ion 3000 mAh.

Selain prototipe fungsional, penelitian ini membuahkan sejumlah capaian ilmiah. Artikel berjudul "TOBA Helmet Technology Onboard for Bike Automation to Reduce the Risks of Violent Motorcycle Crimes" telah diterima (Letter of Acceptance) untuk dipresentasikan pada The 5th International Symposium on Materials and Electrical Engineering (ISMEE 2025) di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, dan akan dipublikasikan pada IEEE Xplore yang terindeks Scopus. Tim peneliti juga menghasilkan bahan ajar digital berupa video dokumentasi sistem yang dipublikasikan melalui kanal YouTube.

Penelitian ini turut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi D3 Metrologi dan Instrumentasi dalam proses pengembangan prototipe, sekaligus merekogonisasi 14 SKS mata kuliah sebagai bentuk integrasi riset ke pembelajaran sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Ke depan, tim berencana mengembangkan sistem lebih lanjut — mulai dari optimasi komunikasi data, integrasi geofencing, hingga machine learning untuk mendeteksi perilaku berkendara — sebagaimana tertuang dalam roadmap penelitian hingga 2029. Penelitian ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui penguatan infrastruktur keamanan publik berbasis teknologi.