Medan, 10 September 2026 — Perkembangan fintech, pembayaran digital, dan live commerce terus mengubah cara masyarakat melakukan transaksi sekaligus membuka berbagai peluang baru dalam menciptakan nilai bisnis. Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) dalam International Summer Course 2026 bertajuk “Future-Proofing Global Business and Accounting: Digital Innovation, Sustainable Finance, and Governance.”
Pada hari keempat Sesi 1, mahasiswa mengikuti sesi bertema “Fintech, Digital Payments, and Live Commerce: How Technology is Changing the Way We Buy, Sell, and Create Business Value” yang disampaikan oleh Dr. Anurak Binnui dari Suratthani Rajabhat University, Thailand. Melalui pemaparan dan berbagai aktivitas interaktif, mahasiswa diajak memahami bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan nilai bisnis sekaligus mendukung proses pengambilan keputusan.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Dr. Anurak adalah pentingnya menempatkan AI sebagai rekan kerja atau teammate, bukan sebagai pengganti manusia dalam proses pengambilan keputusan.
“AI is your friend, AI is your teammate. They are not your boss.”
Pesan tersebut mengarahkan mahasiswa untuk tidak berhenti pada pertanyaan apakah AI akan menggantikan akuntan, tetapi mengubah sudut pandang menjadi bagaimana akuntan dapat bekerja bersama AI untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik. Menurut Dr. Anurak, AI memiliki kemampuan untuk bekerja secara cepat, terorganisasi, dan menghasilkan berbagai alternatif analisis. Namun, hasil yang diberikan AI tetap perlu dipahami dan dievaluasi oleh manusia sebelum digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta, Dr. Anurak memberikan sebuah studi kasus kepada mahasiswa. Peserta diminta memasukkan prompt kepada AI dengan kondisi bisnis berupa peningkatan penjualan sebesar 30%, kenaikan biaya pemasaran 60%, peningkatan pengembalian produk 40%, kenaikan keluhan pelanggan 50%, serta penurunan arus kas sebesar 20%. AI kemudian menghasilkan beberapa area yang perlu menjadi perhatian, antara lain peningkatan biaya pemasaran yang tidak sebanding dengan pertumbuhan penjualan, persoalan kualitas produk dan pengalaman pelanggan, serta kemungkinan masalah pengelolaan modal kerja.
Salah satu peserta delegasi USU kemudian membacakan jawaban yang dihasilkan AI berdasarkan prompt tersebut dan menyampaikan pendapatnya. Ia menilai bahwa analisis yang diberikan AI cukup masuk akal, namun tetap menekankan bahwa manusia perlu melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi tersebut serta menentukan metode yang tepat dalam mengambil keputusan.
Menanggapi pendapat tersebut, Dr. Anurak mengapresiasi pemahaman peserta dan menekankan bahwa kemampuan menggunakan AI tidak berhenti pada menerima jawaban yang diberikan. Pengguna perlu membaca, memahami, dan mempertanyakan kembali informasi yang dihasilkan sebelum menjadikannya sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan jawaban, tetapi juga dengan kemampuan manusia untuk membaca, memahami, mempertanyakan, dan menentukan bagaimana hasil tersebut akan digunakan.
Sesi berikutnya membawa mahasiswa pada tantangan untuk mengembangkan ide bisnis dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia. Dr. Anurak menekankan bahwa dalam mengembangkan ide bisnis tidak selalu terdapat satu jawaban yang benar. Mahasiswa didorong untuk menciptakan gagasan berdasarkan sumber daya, pengetahuan, dan kondisi yang mereka miliki.

Pembahasan juga mengangkat potensi industri berbasis komunitas yang terdapat di Indonesia dan Malaysia, termasuk produk yang berasal dari komoditas seperti karet, kakao, maupun hasil pertanian lainnya. Menurut Dr. Anurak, sumber daya yang telah tersedia di lingkungan masyarakat dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan model bisnis dengan memanfaatkan teknologi digital.
Menariknya, mahasiswa juga diperkenalkan pada peluang menjadi business advisor. Seseorang tidak harus selalu menjadi pemilik produk atau menginvestasikan modal sendiri untuk terlibat dalam dunia bisnis. Pengetahuan dan kemampuan memberikan saran kepada pelaku usaha juga dapat menjadi nilai yang ditawarkan.
Dalam konteks mahasiswa akuntansi, pendekatan ini memperluas pemahaman bahwa kemampuan memahami angka tidak berhenti pada pencatatan dan pelaporan. Mahasiswa juga perlu memahami apa yang berada di balik angka tersebut, bagaimana informasi digunakan, serta bagaimana informasi tersebut dapat membantu pelaku usaha mengambil keputusan.
Diskusi kemudian berkembang pada pemanfaatan media sosial, pembayaran digital, dan live commerce dalam menciptakan pengalaman penjualan yang lebih cepat dan interaktif.
Sejumlah mahasiswa mengusulkan penggunaan media sosial dan live commerce untuk menjangkau pelanggan baru, berinteraksi langsung dengan konsumen, serta memanfaatkan QR dan pembayaran digital untuk mempermudah transaksi.
Menanggapi gagasan tersebut, Dr. Anurak menjelaskan bahwa live commerce memungkinkan aktivitas promosi dan penjualan berlangsung secara bersamaan. Ketika penjual melakukan streaming untuk memperkenalkan dan mendemonstrasikan produk, bagian back office dapat secara bersamaan menangani pesanan dan proses pembayaran dengan dukungan teknologi.
Model tersebut menunjukkan bagaimana teknologi tidak hanya mengubah cara konsumen membeli produk, tetapi juga dapat mengubah proses operasional di belakang transaksi. Pesanan dapat tercatat secara langsung, pembayaran dikonfirmasi, kemudian produk diproses dan dikirim kepada pelanggan.
Mahasiswa juga mengusulkan model subscription box untuk produk-produk khusus. Menanggapi gagasan tersebut, Dr. Anurak menunjukkan bahwa seseorang bahkan tidak harus memiliki produk sendiri untuk membangun model bisnis. Mereka dapat bekerja sama dengan pelaku usaha atau komunitas yang telah memiliki produk, sementara dirinya berperan dalam mengembangkan model penjualan, pemasaran, dan hubungan dengan pelanggan.
Dalam beberapa aktivitas, mahasiswa juga menggunakan AI untuk membantu mengembangkan dan mengorganisasi gagasan yang mereka sampaikan. Dr. Anurak mengapresiasi penggunaan tersebut karena AI dapat membantu menyusun ide sehingga lebih terstruktur ketika dipresentasikan.
Namun, ia kembali menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan kemauan dan inisiatif manusia untuk memulai. Menurutnya, mahasiswa telah memiliki berbagai instrumen teknologi di tangan mereka, tetapi teknologi tersebut baru akan memberikan manfaat ketika digunakan untuk mewujudkan ide menjadi tindakan.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan tantangan yang diberikan kepada mahasiswa agar tidak mencari apakah suatu ide benar atau salah, melainkan bagaimana ide tersebut dapat memberikan kemudahan dan nilai bagi orang lain.
Salah satu diskusi menarik muncul ketika mahasiswa bertanya mengenai individu yang memiliki kepribadian lebih tertutup atau introvert dan merasa kurang percaya diri untuk tampil di media sosial maupun live commerce.
Dr. Anurak menekankan bahwa sifat introvert tidak menjadi penghalang untuk menjadi pelaku bisnis. Menurutnya, pemanfaatan teknologi seperti AI, video AI, maupun live streaming dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu seseorang memperkenalkan produk tanpa harus langsung menjadi pusat perhatian.
Meski demikian, ia menekankan bahwa produk, kualitas, dan kepercayaan pelanggan tetap menjadi hal penting. Teknologi dapat membantu proses komunikasi, tetapi konsumen tetap membutuhkan keyakinan bahwa produk yang ditawarkan benar-benar memiliki kualitas dan memberikan nilai.
Bagi mahasiswa, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara mengenai teknologi transaksi, tetapi juga mengenai bagaimana teknologi digunakan untuk membangun hubungan dengan konsumen, menyampaikan nilai produk, dan menciptakan pengalaman yang lebih nyaman.
Sesi yang disampaikan Dr. Anurak memberikan perspektif yang lebih luas bagi mahasiswa Akuntansi Sektor Publik mengenai perubahan peran akuntan di tengah perkembangan teknologi. AI dapat membantu mengolah dan mengorganisasi informasi, digital payment dapat menyederhanakan transaksi, sementara live commerce dan media sosial membuka cara baru dalam menjangkau konsumen. Namun, seluruh teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia yang mampu memahami konteks, mempertanyakan informasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas penggunaannya.
Melalui sesi ini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami perkembangan fintech, pembayaran digital, dan live commerce, tetapi juga didorong untuk melihat teknologi sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia dalam menciptakan nilai dan mengambil keputusan. Pesan yang dibangun dalam sesi tersebut selaras dengan tantangan bagi mahasiswa di era digital untuk tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi mampu memahami apa yang berada di balik data, menguji informasi yang dihasilkan AI, mengembangkan ide, dan mengubah teknologi menjadi solusi yang memberikan manfaat nyata.