Medan, 9 September 2026 — Mahasiswa Program Studi Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) memperluas wawasan mengenai strategi pengembangan sumber daya manusia dalam menghadapi kompleksitas bisnis global melalui International Summer Course 2026. Pada sesi yang mengangkat topik “Inclusive Leadership and Pro-Growth Absorptive Capacity as A Strategy of Human Resource Model in Navigating Future Global Business”, Dr. Yasmin Chairunisa Muchtar, SP., MBA. membahas pentingnya kepemimpinan inklusif dan kapasitas organisasi dalam menyerap pengetahuan sebagai bagian dari strategi sumber daya manusia masa depan.
Dalam pembukaannya, Dr. Yasmin menyampaikan bahwa topik tersebut menjadi penting di tengah dunia bisnis global yang semakin kompleks dan mengalami perubahan secara cepat. Pembahasan diarahkan untuk menjawab pertanyaan mengenai kapabilitas yang perlu dimiliki organisasi dan pemimpin agar tetap relevan serta kompetitif dalam menghadapi masa depan bisnis global.
Dr. Yasmin mengawali pemaparan dengan menjelaskan lingkungan bisnis masa depan melalui kerangka VUCA, yang mencakup Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Kondisi tersebut menggambarkan perubahan yang cepat, ketidakpastian, keterkaitan berbagai faktor, serta situasi yang dapat menghadirkan beragam kemungkinan dalam pengambilan keputusan.
Dalam situasi tersebut, organisasi dituntut tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk terus belajar, berinovasi, dan berkembang. Materi menunjukkan bahwa strategi sumber daya manusia perlu bergeser dari sekadar fungsi administratif menuju pembangunan kapabilitas dan arsitektur pengetahuan organisasi.
Salah satu konsep utama yang diperkenalkan adalah Inclusive Leadership (IL), yaitu pendekatan kepemimpinan yang melibatkan anggota organisasi tanpa memandang gender, etnis, maupun latar belakang serta menciptakan ruang yang aman bagi karyawan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat. Pendekatan tersebut dinilai dapat membangun kepercayaan, psychological safety, kolaborasi, dan inovasi dalam organisasi.

Dr. Yasmin menjelaskan tiga karakteristik utama pemimpin inklusif, yaitu openness, availability, dan accessibility. Pemimpin diharapkan terbuka terhadap gagasan dan perspektif yang berbeda, bersedia mendengarkan serta memberikan dukungan kepada anggota organisasi, dan mudah dihubungi ketika karyawan membutuhkan ruang untuk menyampaikan persoalan maupun ide.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika organisasi menghadapi kebutuhan untuk mengelola keberagaman perspektif. Menurut materi, keberagaman kognitif dapat menjadi sumber inovasi apabila pemimpin mampu menciptakan lingkungan yang memungkinkan berbagai pandangan dikemukakan dan dipertimbangkan secara konstruktif.
Selain kepemimpinan inklusif, Dr. Yasmin memperkenalkan Pro-Growth Absorptive Capacity (PGAC) sebagai kemampuan individu dan organisasi untuk memperoleh, memahami, memperbarui, serta memanfaatkan pengetahuan baru untuk meningkatkan nilai dan kinerja.
Dalam konteks organisasi, PGAC mencakup kemampuan untuk terus menemukan pengetahuan yang konstruktif, memperbarui pengetahuan yang dimiliki, serta memanfaatkan informasi dan pengetahuan terbaru dalam mencapai tujuan kerja.
Kemampuan tersebut semakin penting dalam era Society 5.0, ketika perkembangan kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), big data, dan otomatisasi menuntut individu untuk terus belajar dan menyesuaikan kompetensinya. Materi juga menekankan bahwa pengetahuan yang diperoleh tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi perlu diterapkan untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan kebutuhan manusia dan masyarakat.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa mempertanyakan bagaimana pemimpin dapat tetap memanfaatkan keberagaman perspektif tanpa memperlambat pengambilan keputusan ketika organisasi menghadapi situasi mendesak.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. Yasmin menjelaskan pentingnya membangun cross-functional dan cross-generational teams sebelum krisis terjadi. Dengan membentuk tim yang terdiri atas individu dari berbagai generasi dan fungsi, proses pertukaran perspektif serta pengambilan keputusan dapat dilatih terlebih dahulu sehingga organisasi tidak harus memulai diskusi dari awal ketika menghadapi situasi yang membutuhkan keputusan cepat.
Dengan demikian, keberagaman perspektif dan kecepatan eksekusi tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Sinergi kognitif dibangun sebelum krisis, sementara struktur tim yang telah terbentuk menjadi dasar untuk merespons situasi secara cepat.

Diskusi lainnya menyoroti bagaimana organisasi dapat memberikan ruang bagi eksperimen dan kemungkinan kegagalan tanpa mengorbankan target kinerja perusahaan. Dr. Yasmin mengaitkan persoalan tersebut dengan konsep Agile Innovation Lab, yaitu ruang internal yang memungkinkan organisasi menguji gagasan baru sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas. Materi menempatkan Agile Innovation Lab sebagai salah satu elemen dalam Continuous Pro-Growth Absorptive Capacity untuk memperkuat kemampuan organisasi dalam menyerap, mengolah, dan menerapkan pengetahuan baru.
Melalui pendekatan tersebut, proses eksperimen dapat dilakukan dalam ruang yang terukur sehingga kegagalan dalam tahap pengujian tidak langsung berdampak pada bisnis inti. Dr. Yasmin menekankan bahwa organisasi tidak harus menurunkan target kinerja, tetapi perlu membedakan antara kegagalan dalam proses eksperimen yang dapat ditoleransi dan risiko yang tidak dapat diterima.
Isu keberagaman juga dibahas dalam konteks strategi rekrutmen. Mahasiswa mempertanyakan bagaimana perusahaan dapat menghindari kecenderungan merekrut individu berdasarkan cultural fit yang berpotensi menghasilkan keseragaman cara berpikir.
Dr. Yasmin menjelaskan bahwa strategi rekrutmen dapat diarahkan pada penciptaan cognitive synergy melalui kebijakan keberagaman, keadilan, dan inklusi. Materi menekankan pentingnya kebijakan yang terukur dalam proses rekrutmen, promosi, dan evaluasi kinerja. Selain itu, model kolaborasi lintas fungsi dan lintas generasi dapat digunakan untuk mempertemukan individu dengan latar belakang, usia, serta kompetensi yang berbeda.
Menurutnya, organisasi perlu bergerak dari kecenderungan “selecting for sameness” menuju penciptaan perbedaan yang terstruktur dan konstruktif. Dalam proses tersebut, kepemimpinan inklusif memiliki peran penting untuk memastikan keberagaman tidak berkembang menjadi konflik destruktif, tetapi menjadi sumber pembelajaran dan inovasi.
Pembahasan kemudian diarahkan pada kemampuan organisasi menghadapi tekanan eksternal yang berada di luar kendali perusahaan, termasuk gejolak geopolitik. Dr. Yasmin menekankan pentingnya perencanaan, prediksi, dan kesiapan menghadapi berbagai skenario. Organisasi perlu mengembangkan kemampuan untuk memperkirakan perubahan, menyiapkan rencana alternatif, menjaga arus kas dan cadangan, serta membangun tim yang telah siap bekerja secara kolaboratif sebelum krisis terjadi.
Dalam konteks tersebut, kemampuan belajar dari pengalaman dan beradaptasi menjadi bagian penting dari ketahanan organisasi. Hal ini sejalan dengan materi yang menempatkan pro-growth absorptive capacity sebagai kemampuan untuk memperoleh pengetahuan baru, menerapkannya dalam inovasi, dan mengubah inovasi tersebut menjadi pertumbuhan berkelanjutan.
Menutup pemaparannya, Dr. Yasmin menyampaikan sebuah analogi yang merangkum hubungan antara dua konsep utama dalam materi: “Inclusive leadership is the compass; pro-growth absorptive capacity is the engine. Together, they navigate the future of global business.”
Kepemimpinan inklusif berperan sebagai kompas yang memberikan arah, nilai, dan budaya bagi organisasi, sedangkan pro-growth absorptive capacity menjadi mesin yang mendorong organisasi untuk terus belajar, berkembang, dan berinovasi. Keduanya perlu berjalan bersama agar organisasi tidak hanya mampu bergerak cepat, tetapi juga memiliki arah yang tepat dalam menghadapi kompleksitas bisnis global.
Melalui sesi ini, mahasiswa Akuntansi Sektor Publik memperoleh perspektif bahwa kesiapan menghadapi masa depan bisnis global tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi dan pengetahuan teknis, tetapi juga oleh kemampuan untuk belajar secara berkelanjutan, menghargai keberagaman perspektif, berkolaborasi, serta membangun kepemimpinan yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman dan adaptif.
Dengan demikian, pembelajaran dalam International Summer Course 2026 turut memperluas perspektif mahasiswa mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia yang strategis sebagai bagian dari upaya membangun organisasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing dalam menghadapi perubahan global.