Medan, 29 September 2026 – Tingginya angka kehilangan pascapanen (post-harvest loss) pada komoditas hortikultura strategis seperti cabai merah (Capsicum annuum L.) akibat fluktuasi cuaca dan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, kerap memicu lonjakan harga yang drastis di pasaran. Menjawab tantangan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Sumatera Utara (USU) yang beranggotakan mahasiswa dari program studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi dan FMIPA USU mengembangkan sebuah inovasi teknologi kemasan ramah lingkungan berupa edible film nanokomposit aktif.

Penelitian yang mengusung judul "Pengembangan Edible Film Kitosan Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ekstrak Kulit Rambutan Sebagai Kemasan Aktif Cabai Merah Pascabanjir" ini mengangkat tema PKM ke-1, yaitu kemandirian pangan, energi, dan air melalui pengembangan teknologi rekayasa kemasan pascapanen berbasis biomassa lokal.

Penelitian ini diketuai oleh Inggrid Auralya Sandy bersama rekan timnya, yaitu Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar yang juga berasal dari Prodi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi USU, serta rekan tim lainnya dari FMIPA USU. Kelompok riset ini dibimbing langsung oleh dosen Fakultas Vokasi USU, Ibu Juli Novita Sari, S.Si., M.Sc.

Inggrid menjelaskan bahwa latar belakang pemilihan bahan baku ini didasarkan pada potensi melimpahnya limbah agroindustri lokal di Sumatera Utara. Selama ini, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan kulit rambutan sering kali hanya menjadi limbah buangan yang kurang bernilai ekonomis.

"Kami memanfaatkan kitosan dari cangkang udang yang dikombinasikan dengan nanofiber selulosa dari limbah TKKS sebagai bahan penguat, serta ekstrak kulit rambutan yang kaya akan senyawa antioksidan dan antimikroba alami," ujar Inggrid.
Melalui serangkaian proses riset laboratorium, tim berhasil memformulasi edible film terbaik—yang diperkaya dengan ekstrak kulit rambutan 1%—untuk melindungi cabai merah. Berdasarkan pengujian aplikasi nyata pada kondisi penyimpanan lembap menyerupai lingkungan pascabanjir (RH ≥ 85%) selama 15 hari, lapisan pelindung ini terbukti sangat efektif dalam menjaga kualitas cabai.

Penggunaan edible film ini mampu menekan susut bobot cabai hingga 12,0% (jauh lebih rendah dibandingkan dengan cabai tanpa pelindung yang mencapai 21,5%), menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk secara signifikan, serta mempertahankan kesegaran dan intensitas warna merah cabai jauh lebih lama hingga hari ke-15.

"Tim kami juga berharap riset ini bisa mengantarkan kami ke PIMNAS 39 dan menginspirasi mahasiswa lain untuk terus berinovasi," jelasnya. Melalui inovasi ini, tim berharap teknologi kemasan aktif berbasis biomassa lokal tersebut dapat menjadi solusi strategis bagi petani dan pelaku rantai pasok dalam menjaga mutu serta memperpanjang umur simpan cabai merah, khususnya dalam menghadapi kerentanan distribusi akibat cuaca ekstrem.

Artikel ini merupakan bagian dari publikasi kegiatan PKM-RE USU 2026 yang didampingi oleh Juli Novita Sari, S.Si., M.Sc. Ikuti perjalanan inovasi SPICEFILM melalui akun Instagram dan TikTok resmi: @spicefilm.team.