Simalungun, 25 September 2026 — Rangkaian field visit International Summer Course 2026 berlanjut dengan kunjungan industri ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Mangkei PTPN IV PalmCo pada Jumat pagi. Seluruh delegasi Malaysia bersama panitia berkesempatan mengenal lebih dekat proses pengolahan kelapa sawit sekaligus melihat bagaimana teknologi dan sistem informasi diterapkan dalam mendukung kegiatan operasional industri. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran langsung setelah sebelumnya para peserta mengikuti berbagai sesi akademik secara daring serta eksplorasi budaya dan kearifan lokal Sumatera Utara.

Setibanya di PKS Sei Mangkei, peserta memperoleh penjelasan mengenai sejarah, perkembangan, proses produksi, hingga sistem yang digunakan dalam mendukung operasional pabrik. Penjelasan disampaikan oleh Muhammad Abduh, S.T., M.M., selaku Manajer PKS Sei Mangkei.

Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan dengan perjalanan PKS Sei Mangkei yang mulai beroperasi pada 1999 dengan kapasitas awal 30 ton TBS per jam. Kapasitas tersebut kemudian berkembang melalui penambahan lini pengolahan hingga mencapai total 75 ton TBS per jam.

Penjelasan mengenai proses produksi menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian delegasi. Peserta diperkenalkan dengan alur pengolahan yang terdiri atas beberapa stasiun, mulai dari loading ramp station, sterilizer station, thresher station, press station, clarification station, kernel station, power station, hingga water treatment station.

Melalui penjelasan tersebut, peserta dapat melihat bahwa pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi produk kelapa sawit melibatkan rangkaian proses yang saling terhubung. Produk utama yang dihasilkan dalam proses pengolahan tersebut antara lain Crude Palm Oil (CPO) dan kernel.

Setelah mendapatkan penjelasan di dalam ruangan, para delegasi kemudian berkesempatan melihat secara umum aktivitas pengolahan dari area luar pabrik. Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai bagaimana proses yang sebelumnya hanya dikenal melalui materi pembelajaran dapat berlangsung dalam lingkungan industri sebenarnya.

Tidak hanya memperkenalkan proses produksi, kunjungan juga memberikan gambaran mengenai pemanfaatan teknologi dalam operasional pabrik. PKS Sei Mangkei telah menerapkan berbagai sistem digital untuk mendukung pengawasan, pengelolaan informasi, serta kegiatan operasional, di antaranya SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), PICA, MyPalmCo, Intank, dan Elemen, sebagaimana diperkenalkan kepada peserta dalam kunjungan.

Perkembangan tersebut menjadi semakin relevan dengan transformasi industri sawit yang terus diarahkan pada efisiensi, keterlacakan, dan keberlanjutan. Secara terkini, PKS Sei Mangkei menjadi salah satu unit PTPN IV PalmCo yang meraih peringkat Hijau PROPER periode 2024–2025. Pabrik ini juga mengoperasikan fasilitas methane capture untuk menangkap metana dari limbah cair kelapa sawit (POME) dan mengolahnya menjadi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

Selain aspek lingkungan, PKS Sei Mangkei juga termasuk unit yang menjadi percontohan integrasi data kebun dan pabrik untuk mendukung keterlacakan sumber TBS. Sistem tersebut memungkinkan asal-usul bahan baku ditelusuri dari sumbernya, sehingga memperkuat transparansi dalam rantai pasok.

Pengalaman melihat proses industri secara langsung memberikan perspektif baru bagi peserta, terutama mahasiswa yang selama ini lebih banyak mengenal proses bisnis melalui pembelajaran akademik. Salah satunya disampaikan Safwa, mahasiswa Business Administration dari UUM. Menurutnya, kunjungan tersebut menarik karena memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana kelapa sawit diproses, bukan hanya mempelajarinya melalui perkuliahan atau media sosial. Ia mengaku baru menyadari bahwa proses menghasilkan produk kelapa sawit melibatkan begitu banyak tahapan. Pengalaman tersebut juga membuatnya melihat hubungan yang erat antara sistem produksi dengan sistem informasi akuntansi.

“In the company or factory they have to calculate the raw material use, the raw production, the labor force and everything. So accounting still needs to calculate all the costs in the factory.”

Menurut Safwa, pengalaman tersebut turut mengubah pandangannya mengenai dunia kerja di industri. Setelah melihat proses secara langsung, ia menyadari bahwa operasional industri melibatkan banyak tahapan, peran, dan departemen yang harus bekerja bersama untuk menghasilkan suatu produk.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa field visit tidak hanya memperkenalkan lingkungan kerja kepada peserta, tetapi juga membantu menghubungkan konsep yang dipelajari dalam bidang bisnis dan akuntansi dengan praktik operasional yang nyata.

Pengalaman selama rangkaian International Summer Course 2026 juga mendapat respons positif dari para delegasi Malaysia. Bagi Annisya Helmi dan Aliyah Fareha, mahasiswa Program Studi Finance dari UUM, kegiatan tersebut merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti International Summer Course.

Keduanya tertarik mengikuti program karena ingin memperoleh wawasan internasional yang lebih luas, mengenal budaya berbeda, meningkatkan kemampuan komunikasi, sekaligus keluar dari zona nyaman. Mereka menilai sesi daring memberikan banyak pengetahuan mengenai finance, business, governance, hingga fintech, sementara sesi luring memberikan pengalaman bekerja sama dan berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam.

Menurut keduanya, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk mencari lebih banyak pengalaman internasional dan membangun koneksi dengan orang-orang dari berbagai negara pada masa mendatang.

Bagi Aliyah, program tersebut merupakan “a new experience, fun and memorable”, sementara Annisya menggambarkannya dengan tiga kata: “learn, connect and grow”. Keduanya juga mengingat pengalaman di Samosir sebagai salah satu momen paling berkesan, terutama ketika bernyanyi bersama dan menikmati waktu makan bersama.

Pengalaman serupa disampaikan Najwa, mahasiswa Accountancy dari UiTM. Sebagai pengalaman pertamanya mengikuti International Summer Course, ia melihat program tersebut sebagai kesempatan untuk keluar dari zona nyaman sekaligus memperoleh pengetahuan baru.

Menurut Najwa, baik sesi daring maupun luring memberikan pembelajaran yang berbeda. Ia memperoleh pengalaman berkomunikasi dalam lingkungan multikultural, sekaligus mendapatkan wawasan yang menurutnya dapat diterapkan dalam perjalanan karier di bidang akuntansi.

Beberapa pengalaman yang paling berkesan baginya justru muncul dari momen-momen kebersamaan, seperti bernyanyi bersama di bus dalam perjalanan menuju Danau Toba dan mengikuti tari tradisional Batak Toba di Huta Siallagan. Ia menggambarkan pengalaman tersebut dengan tiga kata: “empowering, fun, and knowledgeable”. Bahkan, apabila mendapat kesempatan untuk mengikuti kembali program serupa, Najwa menyatakan akan kembali berpartisipasi karena banyak pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya selama kegiatan.

Sementara itu, Aidil, mahasiswa Accountancy dari UUM, menilai daya tarik utama program terletak pada perpaduan antara sesi daring dan luring. Sesi daring menurutnya memberikan pemahaman mengenai berbagai perangkat dan materi akuntansi, sedangkan sesi luring memberinya kesempatan untuk mengenal Indonesia secara langsung.

Sebagai kunjungan pertamanya ke Indonesia, Aidil mengaku mendapatkan banyak pengalaman mengenai keunikan budaya dan kehidupan masyarakat yang berbeda dari negaranya. Ia juga mengapresiasi keramahan masyarakat yang ditemuinya selama berada di Sumatera Utara serta pengalaman mencicipi berbagai makanan Indonesia.

Menurut Aidil, pengalaman lintas negara seperti ini layak untuk terus dilanjutkan karena memberikan kesempatan kepada peserta dari berbagai latar belakang untuk belajar satu sama lain, terhubung, dan bertukar pengetahuan. Ia pun menggambarkan pengalaman International Summer Course 2026 sebagai “lovely, happy and memorable”.

Kunjungan ke PKS Sei Mangkei menjadi salah satu pengalaman yang mempertemukan pembelajaran akademik dengan realitas dunia kerja. Peserta tidak hanya memperoleh gambaran mengenai bagaimana proses produksi kelapa sawit berlangsung, tetapi juga melihat keterkaitan antara teknologi, sumber daya manusia, sistem informasi, proses produksi, dan pengelolaan biaya dalam sebuah organisasi industri.

Bagi delegasi Malaysia, pengalaman tersebut melengkapi rangkaian pembelajaran International Summer Course 2026 yang sebelumnya berlangsung secara daring dan kemudian dilanjutkan dengan berbagai aktivitas luring di Sumatera Utara.

Dari ruang kelas virtual hingga lingkungan industri, dari diskusi akademik hingga pengenalan budaya lokal, rangkaian kegiatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memperluas wawasan sekaligus membangun hubungan lintas negara.

Pada akhirnya, field visit bukan hanya membawa peserta untuk melihat tempat baru, tetapi juga membantu mereka melihat pembelajaran dalam bentuk yang nyata, memahami keberagaman melalui pengalaman langsung, serta membangun koneksi yang dapat dibawa ke masa depan.