home icon
search icon
menu icon

> Berita > Ketua Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik Berkesempatan Tegaskan Pentingnya Penilaian Manusia di Walailak Research Convention 2026

Ketua Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik Berkesempatan Tegaskan Pentingnya Penilaian Manusia di Walailak Research Convention 2026

Dipublikasi Pada

26 Maret 2026

Dipublikasi Oleh

Nurul Juliani, S.Si

Ketua Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik Berkesempatan Tegaskan Pentingnya Penilaian Manusia di Walailak Research Convention 2026
Thumbnail Ketua Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik Berkesempatan Tegaskan Pentingnya Penilaian Manusia di Walailak Research Convention 2026
Di tengah perkembangan AI, Ketua Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik mengingatkan bahwa akuntansi tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang penilaian, etika, dan tanggung jawab.

Zoom Meeting, 26 Maret 2026 — Program Studi D4 Akuntansi Sektor Publik kembali menunjukkan kontribusinya di tingkat internasional melalui partisipasi dalam Walailak Research Convention 2026 yang diselenggarakan oleh Walailak University. Dalam kegiatan ini, Kaprodi Akuntansi Sektor Publik, Sambas Ade Kesuma,S.E, M.Si, Ph.D, Ak, CA., berkesempatan hadir sebagai keynote speaker.

 

Dalam pemaparannya yang berjudul “Human Judgment in the Age of AI: Is Accounting Losing Its Soul?”, beliau mengangkat isu yang tengah berkembang pesat, yakni peran penilaian manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia akuntansi.

 

Beliau menegaskan bahwa transformasi yang terjadi saat ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan pergeseran mendasar dalam praktik akuntansi—dari pencatatan menuju otomatisasi, dari pelaporan menuju analisis real-time, serta berkurangnya keterlibatan penilaian subjektif manusia. Menurutnya, hal ini menjadi krusial karena akuntansi tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga menyangkut kepercayaan, penalaran kritis, dan tanggung jawab profesional.

 

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa tantangan utama bukanlah AI yang akan menggantikan profesi akuntan, melainkan kecenderungan manusia untuk terlalu bergantung pada AI tanpa melakukan evaluasi kritis. “Ketika kita berhenti mempertanyakan, kita berhenti menjadi profesional,” ujarnya.

 

Dalam salah satu contoh kasus yang disampaikan, sistem AI mampu mengklasifikasikan transaksi sebagai sesuatu yang wajar berdasarkan pola statistik, namun gagal menangkap indikasi kecurangan. Sebaliknya, auditor manusia mampu membaca pola perilaku di balik data tersebut dan mengidentifikasi adanya niat yang mencurigakan. Hal ini menunjukkan bahwa AI dapat mendeteksi penyimpangan, tetapi manusia tetap unggul dalam memahami konteks dan niat.

 

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga akuntabilitas dalam penggunaan AI, dengan memastikan bahwa setiap hasil yang dihasilkan dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan. Tanpa kerangka tersebut, AI memang dapat mempercepat proses, tetapi belum tentu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

 

Dalam sesi diskusi, beliau menanggapi kekhawatiran peserta terkait masa depan profesi akuntansi di era AI. Beliau menyampaikan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan alat yang harus dimanfaatkan secara bijak. Profesi akuntan ke depan justru akan semakin membutuhkan individu yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, etika, serta keterampilan multidisiplin.

 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran ilmu di tingkat internasional, tetapi juga membuka wawasan bagi mahasiswa mengenai pentingnya peran manusia dalam menjaga integritas profesi akuntansi di tengah transformasi digital yang semakin pesat.

Berita