Samosir, 24 September 2026 — Pengalaman mengenal Sumatera Utara berlanjut ketika delegasi mahasiswa dan dosen Malaysia menyeberangi Danau Toba menuju Pulau Samosir, Kamis pagi. Perjalanan tersebut menjadi kesempatan bagi para delegasi untuk menyaksikan keindahan alam Danau Toba sekaligus mengenal kearifan lokal masyarakat Batak Toba di Huta Siallagan.

Sejak perjalanan menuju pelabuhan, para delegasi tampak antusias menikmati panorama Danau Toba. Hamparan air yang luas menjadi pemandangan yang tidak dilewatkan begitu saja. Para delegasi mengabadikan perjalanan melalui foto dan video dari atas kapal. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pulau Samosir, kapal sempat berhenti untuk menyinggahi Batu Gantung. Para delegasi menyimak penjelasan mengenai lokasi tersebut sekaligus mengabadikan momen dengan latar bentangan Danau Toba.

Setibanya di Huta Siallagan, para delegasi kemudian diperkenalkan pada berbagai unsur budaya masyarakat Batak Toba. Salah satunya adalah rumah adat yang menjadi bagian penting dari kawasan tersebut. Pemandu menjelaskan bahwa rumah adat tersebut dibangun menggunakan kayu kokoh tanpa paku, melainkan dengan sistem pasak dan tali pengikat dari ijuk.

Para delegasi juga memperoleh penjelasan mengenai tiga warna khas yang digunakan dalam unsur budaya Batak Toba, yaitu merah, hitam, dan putih. Ketiganya memiliki makna simbolis, masing-masing merepresentasikan keberanian, kewibawaan, dan kesucian.

Pengalaman budaya semakin menarik ketika para delegasi diperkenalkan dengan Si Gale-Gale, boneka kayu tradisional Batak Toba yang ditampilkan melalui atraksi budaya dengan gerakan menyerupai tarian manortor dan diiringi musik tradisional. Tidak hanya menjadi penonton, para delegasi juga mendapat kesempatan untuk mempelajari gerakan tarian tradisional tersebut. Dengan mengenakan ulos Batak, mereka turut mencoba gerakan manortor dalam suasana yang berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.

Selain mengenal kesenian, delegasi juga mendapatkan pemahaman mengenai alur musyawarah dan peradilan adat di Huta Siallagan. Penjelasan pemandu mengenai praktik adat tersebut disimak dengan baik oleh para delegasi yang tampak antusias mengikuti cerita mengenai kehidupan masyarakat Batak Toba pada masa lalu.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif yang lebih luas bahwa pengenalan budaya tidak hanya berkaitan dengan kesenian atau simbol tradisional, tetapi juga mencakup nilai, tata kehidupan, serta mekanisme masyarakat dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan.

Setelah menjelajahi kawasan Huta Siallagan, perjalanan delegasi berlanjut dengan mengunjungi sejumlah pelaku UMKM di sekitar kawasan tersebut. Beragam produk lokal ditawarkan, mulai dari gantungan kunci, gelang, magnet souvenir, tas rajut, hingga berbagai kerajinan tangan lainnya.

Beberapa produk seperti pakaian dan rok bermotif batik karya pelaku UMKM setempat juga menarik perhatian para delegasi. Mereka tampak antusias melihat berbagai pilihan souvenir yang tersedia dan berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha.

Menariknya, interaksi tersebut juga berlangsung melalui proses tawar-menawar harga. Beberapa delegasi mencoba bernegosiasi dengan pelaku UMKM sebelum menentukan barang yang ingin dibeli. Meski sederhana, interaksi tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai aktivitas perdagangan yang berlangsung di kawasan wisata Huta Siallagan.

Bagi para delegasi, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk membawa pulang lebih dari sekadar souvenir. Produk-produk yang mereka temui menjadi bagian dari cerita mengenai kreativitas masyarakat lokal sekaligus memperkenalkan hasil karya UMKM kepada peserta dari luar Indonesia.

Usai membeli berbagai cendera mata dari UMKM setempat, para delegasi kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan. Panitia kemudian menyediakan makan siang bersama secara prasmanan di atas kapal. Penyajian makanan secara bersama-sama menciptakan suasana yang lebih akrab, sekaligus menjadi ruang bagi delegasi Malaysia, panitia, dan pendamping untuk berinteraksi dan berbagi cerita selama perjalanan. Momen makan siang tersebut turut melengkapi pengalaman kunjungan dengan suasana kebersamaan di tengah perjalanan menyusuri kawasan Danau Toba.

Rangkaian perjalanan ke Huta Siallagan akhirnya mempertemukan tiga pengalaman dalam satu perjalanan, mulai dari menikmati lanskap Danau Toba, mengenal kearifan dan tradisi Batak Toba, serta melihat secara langsung produk ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Melalui pengalaman tersebut, International Summer Course 2026 tidak hanya menghadirkan pembelajaran di ruang akademik, tetapi juga membuka ruang bagi peserta untuk belajar dari masyarakat, budaya, dan lingkungan di luar kampus. Bagi delegasi Malaysia, perjalanan ke Huta Siallagan menjadi bagian dari pengalaman mengenal Sumatera Utara secara lebih dekat melalui interaksi langsung dengan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat lokal.