Medan, 10 Juli 2026 — Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara melalui Program Studi Akuntansi Sektor Publik terus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri melalui audiensi bersama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional I dan Regional II. Pertemuan yang dihadiri Ketua Program Studi Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi, dosen Program Studi Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi, serta delegasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU ini menjadi langkah awal dalam mempersiapkan implementasi Program Dosen Praktisi sekaligus penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri perkebunan yang semakin terdigitalisasi.

Region Head PTPN IV Regional I, Rurianto, menyampaikan bahwa transformasi digital telah mengubah secara fundamental proses bisnis perusahaan, khususnya pada bidang akuntansi dan pengelolaan data. Jika sebelumnya proses konsolidasi data memerlukan waktu lima hingga tujuh hari kerja, kini seluruh transaksi dari lapangan telah terdigitalisasi melalui sistem ERP SAP dan terintegrasi dalam single source of data.

Selain itu, PTPN IV juga telah mengembangkan PalmCo Business Cockpit (PBC) sebagai dashboard manajemen yang memungkinkan monitoring aktivitas perusahaan secara real time hingga ke tingkat kebun dan blok. Sistem tersebut mempercepat analisis, mendukung pengambilan keputusan, serta menjaga akuntabilitas perusahaan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi USU, Sambas Ade Kesuma, menjelaskan bahwa pendidikan akuntansi saat ini tidak lagi berorientasi pada aktivitas pencatatan dan penyusunan laporan keuangan semata. Transformasi digital telah mendorong perubahan peran akuntan menjadi analis, perancang sistem, dan pengambil keputusan. Meski demikian, kompetensi dasar akuntansi tetap dipertahankan sebagai fondasi agar mahasiswa mampu memahami proses bisnis dan mengevaluasi sistem secara menyeluruh.

"Akuntansi tidak akan hilang karena digitalisasi. Yang berubah adalah bentuk pekerjaannya. Lulusan harus dipersiapkan untuk berada pada level yang lebih strategis, mampu merancang sistem, mengelola informasi, dan menghasilkan keputusan yang bernilai bagi organisasi," jelas Bapak Sambas lebih lanjut.

Dalam diskusi tersebut, Fakultas Vokasi USU juga memaparkan pengembangan kurikulum yang kini berorientasi pada Outcome-Based Education (OBE). Fokus pembelajaran tidak lagi sebatas menghasilkan output berupa penyelesaian mata kuliah, melainkan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja.

Melalui kolaborasi dengan PTPN IV, penyusunan capaian pembelajaran, indikator kinerja (Key Performance Indicator/KPI), hingga materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri sehingga mahasiswa memiliki kesiapan bekerja di berbagai sektor, tidak hanya pada industri perkebunan.

Dalam kesempatan tersebut, kedua belah pihak juga membahas berbagai peluang kerja sama lanjutan, mulai dari keterlibatan praktisi PTPN sebagai dosen praktisi, pengembangan kurikulum Akuntansi Industri Perkebunan, penyelenggaraan International Summer Course, program sertifikasi, magang mahasiswa berbasis pemecahan masalah (problem solving), hingga pengembangan Teaching Factory dan riset terapan yang mendukung transformasi digital perusahaan.

PTPN IV turut mendorong agar mahasiswa magang tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi mampu melakukan evaluasi terhadap proses bisnis, mengidentifikasi peluang efisiensi sistem, serta memberikan rekomendasi inovasi yang dapat diterapkan perusahaan. Menurut pihak PTPN, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri diharapkan mampu menghasilkan solusi nyata sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia di Indonesia.

Sebagai simbol penguatan hubungan kelembagaan, kegiatan diakhiri dengan penyerahan cendera mata antara Fakultas Vokasi USU dan PTPN IV Regional I serta Regional II. Melalui sinergi yang berkelanjutan dengan dunia industri, program studi berharap dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki kompetensi, pola pikir, dan kemampuan adaptif yang selaras dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan industri perkebunan.