Medan, 04 September 2026 — Program Studi D-4 Akuntansi Sektor Publik, Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU), menyelenggarakan kegiatan Kuliah Umum dan Teaching Collaboration bersama Prof. Dr. Ram Al Jaffri Saad dari Universiti Utara Malaysia (UUM), bertempat di Aula Mikie Wijaya, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) USU. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan akademik sekaligus memahami nilai-nilai yang perlu dibangun dalam mempersiapkan diri sebagai akuntan masa depan. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Vokasi USU, Prof. Dr. Isfenti Sadalia, SE., ME., Dekan FEB USU, Dr. Abdillah Arif Nasution, S.E., M.Si., Ak., CA., QGIA., Ketua Program Studi D-4 Akuntansi Sektor Publik, Sambas Ade Kesuma, S.E, M.Si, Ph.D, Ak, CA., serta para dosen dan mahasiswa Program Studi D-4 Akuntansi Sektor Publik.

Dalam sambutannya, Sambas Ade Kesuma menyampaikan bahwa Prof. Ram merupakan sosok mentor yang memberikan inspirasi dalam pengembangan wawasan akademik dan pembentukan karakter mahasiswa. Kehadiran akademisi dari UUM ini diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa, khususnya dalam memahami perkembangan ilmu akuntansi dan tantangan profesi di tengah perubahan lingkungan bisnis dan pemerintahan.

Dalam pemaparannya, Prof. Ram menekankan tiga hal penting yang perlu dimiliki mahasiswa, yaitu ilmu, budi, dan bakti. Ketiganya merupakan fondasi yang saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kesadaran terhadap tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Ilmu menjadi bekal utama bagi mahasiswa untuk memahami bidang yang dipelajari, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menjawab persoalan yang semakin kompleks. Di tengah kemudahan akses informasi dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), mahasiswa tetap perlu membangun pemahaman yang mendalam serta kemampuan untuk menilai kebenaran dan relevansi informasi yang diperoleh. Namun, penguasaan ilmu saja tidak cukup.

Budi berkaitan dengan adab, integritas, dan sikap dalam menggunakan pengetahuan, sedangkan bakti mencerminkan kesediaan untuk mengamalkan ilmu bagi kepentingan yang lebih luas. Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang mampu memberikan kontribusi nyata. Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa Akuntansi Sektor Publik, yang kelak dapat berperan dalam pengelolaan keuangan, pelaporan, pengawasan, maupun tata kelola sektor publik. Dalam bidang tersebut, kompetensi teknis perlu berjalan beriringan dengan integritas dan tanggung jawab terhadap kepentingan masyarakat.

Perkembangan AI turut menjadi salah satu isu penting dalam diskusi mengenai masa depan profesi akuntan. Kemampuan teknologi untuk membantu mengolah data, menyusun informasi, dan mengotomatisasi pekerjaan tertentu menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menggantikan akuntan pada masa mendatang, materi kuliah umum menyoroti pentingnya mahasiswa untuk tidak berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan yang melampaui pengetahuan dasar, termasuk penalaran analitis, pemecahan masalah, pemahaman konteks, dan pertimbangan profesional.

AI dapat menjadi alat bantu dalam pekerjaan akuntansi, tetapi pemanfaatannya tetap membutuhkan pengguna yang mampu memahami hasil, memeriksa ketepatan informasi, dan mempertimbangkan implikasi keputusan. Karena itu, penguasaan teknologi perlu dipadukan dengan pemahaman akuntansi yang kuat, bukan dijadikan pengganti proses belajar.

Bagi mahasiswa Akuntansi Sektor Publik, hal ini juga berkaitan dengan kebutuhan untuk memahami penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, terutama ketika informasi keuangan digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban publik. Tantangan ke depan bukan hanya tentang kemampuan menggunakan AI, melainkan juga tentang bagaimana memanfaatkannya secara tepat, kritis, dan beretika.

Sesi diskusi turut membahas persiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Salah seorang mahasiswi, Rachel Amanda, mengangkat pertanyaan mengenai langkah yang dapat dilakukan mahasiswa untuk meningkatkan kesiapan dan daya saing profesional.

Dalam tanggapannya, Prof. Ram menyarankan mahasiswa untuk memanfaatkan media sosial secara bijak sebagai sarana membangun portofolio profesional. Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan daftar riwayat hidup (resume), tetapi perlu mulai menunjukkan kompetensi dan proses pengembangan dirinya melalui karya, proyek, pengalaman organisasi, kegiatan akademik, maupun hasil pembelajaran yang relevan.

Selain membangun portofolio, mahasiswa juga didorong untuk memperluas pengetahuan sebanyak mungkin. Proses belajar tidak seharusnya terbatas pada materi perkuliahan, tetapi dapat dikembangkan melalui bacaan, diskusi, kegiatan ilmiah, dan pengalaman yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan nyata.

Pesan tersebut menegaskan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja dibangun secara bertahap. Pengetahuan, pengalaman, kemampuan berkomunikasi, dan bukti kompetensi yang terdokumentasi dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menunjukkan kapasitasnya kepada calon pemberi kerja maupun lingkungan profesional.

Dalam diskusi berikutnya, muncul pertanyaan mengenai pentingnya perguruan tinggi dan tenaga pendidik mengejar peringkat atau ranking. Menanggapi hal tersebut, Prof. Ram memandang bahwa peringkat tetap memiliki arti dalam lingkungan pendidikan tinggi, tetapi tidak semestinya menjadi satu-satunya tujuan.

Peringkat dapat menjadi salah satu indikator untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan lulusan. Namun, apabila perhatian terlalu terpusat pada pencapaian peringkat, terdapat risiko bahwa substansi pendidikan dan kebutuhan nyata mahasiswa justru terabaikan. Karena itu, peningkatan kualitas perlu dimulai dari hal-hal mendasar, seperti proses pembelajaran yang bermutu, pengembangan kompetensi dosen dan mahasiswa, serta pemanfaatan potensi yang telah dimiliki perguruan tinggi. Pencapaian institusi sebaiknya tumbuh sebagai hasil dari upaya memperkuat kualitas tersebut, bukan menjadi tujuan yang mengesampingkan pembentukan karakter.

Pandangan ini kembali menegaskan pentingnya melahirkan generasi yang memiliki ilmu, adab, dan bakti. Prestasi akademik akan semakin bermakna ketika berjalan seiring dengan karakter yang baik dan kemampuan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Isu keberlanjutan juga menjadi bagian dari diskusi ketika mahasiswa bernama Ikbar mengangkat perkembangan kajian akuntansi yang sesuai dengan kebutuhan pemerintahan serta tantangan penerapan green accounting di dunia usaha. Pertanyaan tersebut mencerminkan perhatian mahasiswa terhadap peran akuntansi dalam mendukung pengelolaan sumber daya dan tanggung jawab lingkungan.

Dalam konteks ini, green accounting dapat dipahami sebagai pendekatan yang mempertimbangkan aspek lingkungan dalam proses pencatatan, pengukuran, pelaporan, atau pengambilan keputusan ekonomi. Pendekatan tersebut membantu organisasi melihat bahwa kegiatan operasional tidak hanya memiliki konsekuensi finansial, tetapi juga dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana mahasiswa dapat berkontribusi dalam penerapan green accounting pada masa mendatang, Prof. Ram menekankan pentingnya kesadaran bahwa pengetahuan yang dimiliki membawa tanggung jawab. Pemahaman mengenai akuntansi lingkungan perlu diikuti dengan kemauan untuk menerapkannya, termasuk melalui kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bagi mahasiswa Akuntansi Sektor Publik, pemahaman tersebut dapat dikembangkan melalui pembelajaran mengenai penganggaran, pelaporan, akuntabilitas, serta bagaimana informasi keuangan dan nonkeuangan digunakan untuk mendukung kebijakan yang lebih berkelanjutan. Mahasiswa juga dapat mulai membiasakan diri untuk memperhatikan aspek efisiensi sumber daya, dampak lingkungan, dan pertanggungjawaban dalam berbagai kegiatan akademik maupun organisasi.

Dengan demikian, green accounting tidak hanya menjadi materi yang dipelajari di ruang kelas, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara kompetensi akuntansi, kepentingan publik, dan keberlanjutan.

Pelaksanaan Kuliah Umum dan Teaching Collaboration ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi dengan akademisi internasional. Pertemuan tersebut memberikan ruang untuk membahas hubungan antara penguasaan ilmu, pembentukan karakter, pemanfaatan teknologi, pencapaian kualitas pendidikan, dan tanggung jawab profesi akuntan.

Bagi Program Studi D-4 Akuntansi Sektor Publik, pembelajaran semacam ini relevan untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja dan tata kelola sektor publik. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu memahami konsep akuntansi, tetapi juga dapat menerapkan pengetahuan secara kritis, menjaga integritas, serta mempertimbangkan dampak keputusan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Melalui kegiatan ini, Program Studi D-4 Akuntansi Sektor Publik Fakultas Vokasi USU terus mendorong pengembangan mahasiswa yang mengintegrasikan kompetensi akademik dengan karakter dan tanggung jawab sosial. Nilai ilmu, budi, dan bakti menjadi pengingat bahwa kualitas seorang calon akuntan tidak hanya diukur dari apa yang diketahuinya, tetapi juga dari bagaimana ia menggunakan pengetahuan tersebut untuk memberikan manfaat.